TRADISI BALAS PANTUN DALAM PERNIKAHAN ADAT TOLITOLI

TRADISI BALAS PANTUN DALAM PERNIKAHAN

“KABINGTRADISI BALAS PANTUN DALAM PERNIKAHAN “KABINGAN” ai “MELLEGESAN” TAU TOLITOLI Awalnya dari sekedar jalan-jalan ke kampung halaman teman kami didesa Pinjan Kecamatan Tolitoli Utara sampai akhinya bisa mengetahui adat istiadat dalam pernikahan yang mungkin bagi sebagian masyarakat perkotaan sudah tidak mengenal kebiasaan-kebiasaan yang ada dari zaman nenek moyang masyarakat Tolitoli ini. Pada hari itu tepatnya tanggal 15 April 2012, Yatno, Fahmi, Nastur dan saya sendiri Abe ( Pembina Pramuka) melakukan sebuah perjalanan ke salah satu desa yang ada di Kabupaten Tolitoli, lebih tepatnya di Desa Pinjan. Entah apalah sebutan yang pasnya untuk perjalanan kemarin, mungkin bisa dikatakan perjalanan wisata sekaligus budaya yang sekali lagi merupakan warisan nenek moyang yang sudah lama tidak dilaksanakan dalam kegiatan Akad Nikah. Perjalanan yang kami tempuh untuk sampai di Desa Pinjan memakan waktu sekitar 3 Jam sudah termaksud dengan waktu istirahat di jalan. Sesampainya di Desa kami ber-empat jalan-jalan ke salah satu warung yang ada di bukit Desa. Pada saat itu salah se-orang warga mengatakan bahwa ada pernikahan yang akan dilangsungkan di Desa tersebut. Bergegaslah kami ber-empat menuju ke lokasi pernikahan tersebut, dan sampailah kami di lokasi yang di maksud orang si pemberi info tadi. Awalnya sempat terlintas di benak kami ber-tiga ( Tidak termaksud Nastur, karena memang dia asli orang dii Desaitu ), ini pernikahan kok ngak ada musik pengiringnya, atau mungkin belum karena menunggu acara resepsinya dulu atau semacamnyalah. Tapi pemikiran kami ber-tiga salah semua, ternyata pada malam itu hanya diadakan akad nikah sekaligus resepsinya, dalam bahasa Daerah Tolitoli Acara tersebut Bernama “KABINGAN”. Sekali lagi dari acara adat pernikahan tersebut kami mendapatkan satu hal yang belum pernah dilihat dalam prosesi adat pernikahan, yakni memainkan alat musik tradisional seperti GAMBUS, KORONCONGAN dan di-iringi oleh gitar sambil berbalas pantun, dalam bahasa Tolitoli “MELLEGESAN”. Menjadi sebuah keunikan karena memang selama ini kami belum pernah menjumpai kegiatan tersebut dalam adat pernikahan. Uniknya lagi kegiatan berbalas pantun tersebut bisa berlansung hingga pagi hari dan dilakukan oleh orang-orang yang sudah cukup berumur, waduuhhh memang kebiasaan yang patut untuk dilestarikan keberadaannya, sehingga kebiasaan tersebut tidak hilang dimakan waktu seiring dengan majunya modernisasi dan globalisasi. Seorang warga yang dituakan sedang memainkan alat musik tradisional yang bernama gambus Para wanita yang menjadi bagian dari prosesi “berbalas pantun” atau “Mellegesan” “Kita Sasakan Montoliusat” ( Kita Semua Bersaudara ) Created By : – Arief Abe,SH. ( Penulis ) – Yatno Ketua Kelas ( Dokumentasi & Editor ) – Fahmi Wakil Ketua Kelas ( Reporter ) – Nastur ( Penerjemah ) AN” ai “MELLEGESAN” TAU TOLITOLI

Awalnya dari sekedar jalan-jalan ke kampung halaman teman kami didesa Pinjan Kecamatan Tolitoli Utara sampai akhinya bisa mengetahui adat istiadat dalam pernikahan yang mungkin bagi sebagian masyarakat perkotaan sudah tidak mengenal kebiasaan-kebiasaan yang ada dari zaman nenek moyang masyarakat Tolitoli ini.

Pada hari itu tepatnya tanggal 15 April 2012, Yatno, Fahmi, Nastur dan saya sendiri Abe ( Pembina Pramuka) melakukan sebuah perjalanan ke salah satu desa yang ada di Kabupaten Tolitoli, lebih tepatnya di Desa Pinjan. Entah apalah sebutan yang pasnya untuk perjalanan kemarin, mungkin bisa dikatakan perjalanan wisata sekaligus budaya yang sekali lagi merupakan warisan nenek moyang yang sudah lama tidak dilaksanakan dalam kegiatan Akad Nikah.

Perjalanan yang kami tempuh untuk sampai di Desa Pinjan memakan waktu sekitar 3 Jam sudah termaksud dengan waktu istirahat di jalan. Sesampainya di Desa kami ber-empat jalan-jalan ke salah satu warung yang ada di bukit Desa. Pada saat itu salah se-orang warga mengatakan bahwa ada pernikahan yang akan dilangsungkan di Desa tersebut. Bergegaslah kami ber-empat menuju ke lokasi pernikahan tersebut, dan sampailah kami di lokasi yang di maksud orang si pemberi info tadi. Awalnya sempat terlintas di benak kami ber-tiga ( Tidak termaksud Nastur, karena memang dia asli orang dii Desaitu ), ini pernikahan kok ngak ada musik pengiringnya, atau mungkin belum karena menunggu acara resepsinya dulu atau semacamnyalah. Tapi pemikiran kami ber-tiga salah semua, ternyata pada malam itu hanya diadakan akad nikah sekaligus resepsinya, dalam bahasa Daerah Tolitoli Acara tersebut Bernama “KABINGAN”.

Sekali lagi dari acara adat pernikahan tersebut kami mendapatkan satu hal yang belum pernah dilihat dalam prosesi adat pernikahan, yakni memainkan alat musik tradisional seperti GAMBUS, KORONCONGAN dan di-iringi oleh gitar sambil berbalas pantun, dalam bahasa Tolitoli “MELLEGESAN”. Menjadi sebuah keunikan karena memang selama ini kami belum pernah menjumpai kegiatan tersebut dalam adat pernikahan. Uniknya lagi kegiatan berbalas pantun tersebut bisa berlansung hingga pagi hari dan dilakukan oleh orang-orang yang sudah cukup berumur, waduuhhh memang kebiasaan yang patut untuk dilestarikan keberadaannya, sehingga kebiasaan tersebut tidak hilang dimakan waktu seiring dengan majunya modernisasi dan globalisasi.

Seorang warga yang dituakan sedang memainkan alat musik tradisional yang bernama gambus

Para wanita yang menjadi bagian dari prosesi “berbalas pantun” atau “Mellegesan”

“Kita Sasakan Montoliusat” ( Kita Semua Bersaudara )

Created By :

– Arief Abe,SH. ( Penulis )

– Yatno Ketua Kelas ( Dokumentasi & Editor )

– Fahmi Wakil Ketua Kelas ( Reporter )

– Nastur ( Penerjemah )

91 Comments

Filed under Tulisan

Tinggalkan Balasan